Menembus Banjir dan Longsor, Kisah Dua Santri Alumni Dayah Insan Qur’ani Menuju Mesir

Menembus Banjir dan Longsor, Kisah Dua Santri Alumni Dayah Insan Qur’ani Menuju Mesir
Dua santri Dayah Insan Qur’ani (IQ) Aceh Besar, Feri Gunawan dan Khalis Akhyar

Musibah banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh menyisakan duka mendalam. Tidak hanya merusak rumah, memutus akses jalan, dan melumpuhkan aktivitas masyarakat, bencana ini juga menguji keteguhan banyak orang dalam menjaga harapan.

Ujian itu pula yang dialami dua alumni Dayah Insan Qur’ani (IQ) Aceh Besar. Di tengah kondisi darurat, mereka tetap berjuang melanjutkan langkah menuju Al-Azhar, Kairo, Mesir. Medan yang ekstrim harus ditempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari menembus banjir dan longsor hingga akhirnya tiba di Banda Aceh, sebelum melanjutkan perjalanan udara melalui Bandara Sultan Iskandar Muda bersama calon mahasiswa Aceh lainnya menuju Negeri Piramida.

Kedua alumni tersebut adalah Feri Gunawan dan Khalis Akhyar, dua pemuda asal dataran tinggi Gayo yang harus berhadapan langsung dengan keterisolasian wilayah. Perjalanan mereka membuktikan bahwa jalan menuju ilmu tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.

Feri Gunawan, alumni Dayah IQ tahun 2025 asal Kampung Buntul, Kabupaten Bener Meriah, dihadapkan pada kenyataan pahit ketika seluruh akses keluar dari kampung halamannya tertutup banjir. Jalan utama terputus, kendaraan tak dapat melintas, dan jaringan komunikasi nyaris lumpuh.

Dalam situasi tersebut, Feri bersama ayah, saudara, dan pamannya memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka menembus hujan dan lumpur, memanggul barang-barang yang akan dibawa Feri ke Mesir. Saat kendaraan tak lagi bisa digunakan, langkah kaki menjadi satu-satunya pilihan.

Perjalanan itu sarat risiko. Jalan licin, arus air deras, dan rasa cemas terus menyertai. Namun niat yang telah ditautkan kepada Allah menjadi kekuatan yang menjaga langkah tetap tegap.

Setibanya di kawasan Kampung Kem (Kab. Bener Meriah), Feri dan ayahnya melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek menuju jalur lintas Gunung Salak–Krueng Geukueh. Sementara itu, saudara dan pamannya kembali setelah memastikan Feri berada di jalur yang memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Begitu menemukan area dengan sinyal, ayah Feri segera menghubungi panitia keberangkatan IKAT Aceh. Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke Banda Aceh. Malam dilewati di Sekretariat IKAT sebagai jeda singkat sebelum perpisahan.

Keesokan paginya, sang ayah melepas Feri dengan mata berkaca-kaca dan pesan penuh makna. “Kalau banjir tak menghentikan kita, maka tak ada alasan untuk berhenti mengejar ilmu.” demikian cerita Feri, Jumat (19/12/2025) dikutip dari kemenag.go.id

Dengan doa orang tua dan pertolongan Allah, Feri akhirnya tiba di Mesir pada 9 Desember 2025, membawa harapan dari kampung halamannya yang tengah diuji bencana.

Kisah serupa juga dialami Khalis Akhyar, alumni Dayah IQ tahun 2024 asal Takengon, Aceh Tengah. Sejak akhir November 2025, hujan lebat memicu banjir dan longsor yang memutus akses wilayah serta melumpuhkan jaringan internet.

Selama hampir sepekan, Khalis kehilangan informasi mengenai keberangkatannya. Hingga akhirnya, dengan memanfaatkan akses Wi-Fi seadanya di kantor keuchik, ia berhasil menghubungi panitia IKAT Aceh dan memastikan jadwal keberangkatan ke Mesir pada 17 Desember 2025.

Bersama kedua orang tuanya, Khalis berupaya mencari jalur menuju Banda Aceh. Namun seluruh akses darat (melalui Bireuen, Beutong Ateuh, hingga Simpang KKA) terputus. Opsi berjalan kaki puluhan kilometer dinilai terlalu berisiko di tengah kondisi darurat.

Harapan kembali muncul ketika Khalis memperoleh kabar adanya penerbangan darurat TNI dari Bandara Rembele, Bener Meriah. Dengan penuh doa, ia dan keluarganya menuju bandara tersebut.

Namun ujian belum berakhir. Kapasitas pesawat terbatas, penumpang membludak, dan prioritas diberikan kepada warga dengan kondisi medis darurat. Seharian penuh Khalis menunggu tanpa kepastian.

Sore hari, penerbangan Hercules dinyatakan selesai sementara namanya belum juga dipanggil. Tawaran terbang ke Medan menggunakan pesawat komersial terpaksa ditolak karena harga tiket yang melonjak tinggi. Khalis memilih bersabar dan bertawakal.

Usai menunaikan salat Ashar, kabar baik datang. Pihak bandara mengumumkan penerbangan tambahan menuju Banda Aceh menggunakan helikopter. Ketika banyak calon penumpang telah pulang karena lelah menunggu, Khalis justru mendapatkan kesempatan itu.

Malam harinya, Khalis akhirnya tiba di Banda Aceh. Dengan hati penuh syukur, ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju Mesir sesuai jadwal.

Tentu, kisah mereka bukan sekadar cerita perjalanan fisik. Ia adalah potret keteguhan niat, kesabaran menghadapi ujian, serta keyakinan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.

Sekretaris Dayah Insan Qur’ani, Alfirdaus Putra, turut mensupport dan mendoakan agar langkah mereka dan juga santri lainnya senantiasa dilimpahi keberkahan, ilmunya kelak membawa manfaat luas. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada IKAT Aceh yang telah banyak membantu dan memfasilitasi mereka.

“Selamat menuntut ilmu di negeri para Anbiya, doa dan dukungan kami keluarga besar Dayah IQ, Mudah-mudahan adik-adik semua dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menuntut ilmu disana, amin,” ujar Alfirdaus. (*)

Penulis: Redaksi