Sungguh sangat mulia umat Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, betapa tidak? Sebuah perjalanan luar biasa saat Isra Mikraj, ketika (dengan kehendak Allah SWT), mampu menembus Sidrotul Muntaha. Ketika berjumpa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dengan reflek takjub mengucapkan salam kehormatan.
Attahiyyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatu lillah
Artinya: Salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah.
Lalu kemudian Allah SWT menjawab;
Assalamualaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh
Artinya: Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW
Mendapakan jawaban seperti ini, Rasulullah SAW justru beliau tidak lupa dengan umatnya. Inilah yang membuat kita sangat terharu. Beliau menjawab dengan ucapan:
Assalamu’alaina wa’ala ibadillahish shalihiin
Artinya: Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih.
Mendengar percakapan agung tersebut, seluruh penghuni langit dan bumi sama-sama bersaksi seraya berkata:
Asyhadu an lâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muḥamadar rasulullah
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Dari beberapa dialog di atas tersebut, Imam al-‘Izz bin Abd as-Salam dikutip dari NUOnLine menjelaskan secara spiritual (rohani) dalam Maqasid al-‘Ibadat (1995: 12-13 & 28-30) bahwa kalimat
at-taḥiyyat al-mubarakat as-salawat at-tayyibat lillah dan asyhadu an la ilaha illallah berhubungan dengan Allah.
Kalimat as-salam ‘alaika ayyuha an-nabiyyu wa raḥmatullah wa barkatuh dan asyhadu anna muḥamadar rasulullah berhubungan dengan Rasulullah SAW.
Sedangkan kalimat as-salam ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillah ash-shaliḥin berhubungan dengan hamba-hamba Allah yang saleh dari penduduk bumi dan penduduk langit. Tidak lain karena shalat memang memiliki hubungan (koneksi) secara langsung, baik kepada orang yang sholat sendiri, Allah SWT, Rasulullah SAW, maupun kepada seluruh orang beriman yang ada di alam semesta.
Dialog dan penjelasan secara spiritual Nabi Muhammad dengan Allah SWT diabadikan dalam Sholat, sehingga disabdakan Nabi bahwa *Sholat Mi’rajul Mukminin* (Sholat mikrajnya orang Mukmin) adalah ungkapan bahwa salat adalah perjalanan spiritual (mikraj) bagi orang mukmin untuk naik ke langit tertinggi menghadap Allah SWT, seperti Nabi Muhammad SAW saat Isra’ Mikraj, dimana Rasulullah menerima perintah salat langsung dari Allah. Tujuannya adalah mendekatkan diri (taqarrub), berkomunikasi (munajat), dan meneguhkan hubungan dengan Allah melalui kekhusyukan, kesadaran, serta membawa dampak positif akhlak dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Isra’ Mikraj adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW.
* Isra’ merujuk pada perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsa di Yerusalem,
* Sedangkan Mikraj adalah perjalanan Nabi dari Masjid al-Aqsa menuju langit dan bertemu dengan Allah SWT. Peristiwa ini terjadi dalam satu malam dan memiliki makna yang sangat dalam, baik dalam aspek spiritual maupun ajaran Islam.
Isra’ Mikraj juga merupakan peristiwa yang memperlihatkan keagungan dan kekuasaan Allah SWT, serta menjadi momen penting dalam pemberian kewajiban shalat lima waktu kepada umat Islam.
Keagungan sholat wajib maupun sunnah sebagaimana sarana dzikir (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dan mengabdi sebagai yang memang diciptakan untuk mengabdi adalah, ibadah paling istimewa, karena memerintahkan selalu Mikraj setiap waktu.
Dengan peluang Mikraj setiap waktu, maka kehidupan umat Islam dijamin Allah SWT hatinya selalu merasa kaya, sekaligus menutupi sifat kemiskinan. Sehinga menjadi umat yang paripurna.
Seorang mukmin akan menjalani dan Menikmati kehidupan dengan ibadah, sekaligus Allah SWT mencukupi kebutuhannya. (Djoko Tetuko)



