Kategori: Pendidikan

  • BKPI UIN Madura Gelar Praktikum Integratif di IBS PKMKK, Mahasiswa Dalami Dinamika Psikososial Santri

    Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Madura melaksanakan kunjungan resmi ke IBS PKMKK dalam rangka penguatan praktikum integratif bagi mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (7/4/2026) dan menghadirkan narasumber Kaprodi Iswatun Hasanah, M.Psi serta Sekprodi Sri Rizqi Wahyuningrum, M.Si.

    Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda formal, tetapi juga menjadi langkah nyata untuk menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik langsung di lingkungan pesantren. Melalui kegiatan ini, pihak kampus ingin menciptakan pembelajaran yang lebih aplikatif dan relevan dengan kondisi lapangan.

    Praktikum integratif ini menggabungkan tiga mata kuliah utama, yakni Asesmen Problematika Santri, Teknik Bimbingan Konseling Pesantren, dan Praktikum Bimbingan Konseling di Pesantren. Program ini dirancang untuk membekali mahasiswa tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara emosional dan spiritual.

    Sebanyak 12 mahasiswa semester enam, terdiri dari tujuh mahasiswi dan lima mahasiswa, mengikuti kegiatan observasi selama tiga hari dua malam di lingkungan pesantren. Mereka melakukan penggalian data terkait kondisi psikososial santri menggunakan instrumen yang telah disiapkan.

    Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diminta mengidentifikasi permasalahan, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan yang berkembang di pesantren. Interaksi antara santri dan guru menjadi salah satu fokus utama pengamatan.

    Mahasiswa juga diajak untuk melihat bagaimana nilai-nilai seperti penghormatan dan keteladanan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinilai penting sebagai bekal dalam praktik bimbingan dan konseling berbasis nilai keislaman.

    Melalui praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi calon konselor yang tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memiliki empati serta integritas.

    Pengalaman lapangan ini menjadi dasar penting sebelum mereka terjun ke penelitian dan praktik profesional di masa mendatang.

    Program ini sekaligus menjadi upaya BKPI UIN Madura dalam mencetak konselor pendidikan Islam yang mampu berperan aktif dalam mendampingi dan membina generasi muda di lingkungan pesantren maupun masyarakat luas. (red)

  • Apresiasi Kepala Kantor Kemenag Jatim Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar,atas hasil karya 197 buku santri IBS PKMKK

    197 Buku Santri IBS PKMKK Raih Apresiasi Kemenag Jatim Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar

    Surabaya, WartaTransparansi.com – Apresiasi yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, terhadap para santri IBS PKMKK yang  menghasilkan 197 judul buku ber-ISBN selama 4 tahun berdiri dan diserahkan langsung oleh Direktur Utama IBS PKMKK di lobi gedung utama lantai 1, bukan sekadar peristiwa seremonial kelembagaan. Peristiwa tersebut merupakan simbol pengakuan negara terhadap kebangkitan tradisi intelektual pesantren sebagai kekuatan peradaban yang hidup, dinamis, dan relevan dengan zaman.

    Apresiasi dari otoritas negara memiliki makna yang melampaui penghargaan formal, ia membentuk legitimasi sosial terhadap sebuah praktik budaya, dalam hal ini budaya literasi pesantren. Legitimasi semacam ini penting karena masyarakat modern sering menilai keberhasilan pendidikan melalui indikator-indikator formal seperti publikasi, pengakuan akademik, dan kontribusi keilmuan. Ketika seorang pejabat negara memberikan apresiasi secara langsung di ruang publik lembaga pendidikan, maka yang terjadi bukan hanya pengakuan terhadap individu santri, tetapi juga penguatan posisi pesantren dalam peta ekosistem pendidikan nasional.

    Penyerahan buku di lobi gedung utama lantai 1 memiliki dimensi simbolik yang menarik. Lobi merupakan ruang pertemuan antara dunia luar dan dunia dalam sebuah institusi, ia adalah ruang transisi, ruang publik sekaligus ruang representasi identitas. Ketika karya santri diserahkan di ruang tersebut, maka pesan simboliknya jelas, literasi santri bukan lagi aktivitas privat di ruang kelas atau kamar asrama, melainkan identitas publik lembaga yang ingin ditampilkan kepada dunia. Buku-buku tersebut menjadi wajah intelektual pesantren yang menyapa masyarakat luas.

    Apresiasi yang diberikan juga mencerminkan pergeseran paradigma tentang santri. Secara historis, santri sering dipersepsikan sebagai penjaga tradisi keagamaan yang hidup dalam ruang-ruang terbatas. Namun dalam peristiwa ini, santri tampil sebagai produsen pengetahuan yang berkontribusi pada peradaban literasi. Mereka bukan hanya pembaca kitab, tetapi penulis buku, bukan hanya penerima ilmu, tetapi pencipta pengetahuan. Apresiasi negara menegaskan perubahan citra tersebut secara simbolik dan sosial.

    Apresiasi terhadap karya santri memiliki dimensi yang lebih dalam. Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Aktivitas menulis bukan sekadar kerja intelektual, tetapi juga bentuk ibadah. Ketika seorang santri menulis buku, ia sedang menunaikan amanah keilmuan, menyampaikan pengetahuan agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Apresiasi terhadap karya tersebut berarti mengakui bahwa proses belajar, menulis, dan menyebarkan ilmu adalah bagian dari jalan pengabdian kepada Allah.

    Penghargaan yang diberikan secara langsung oleh seorang pemimpin juga memiliki makna pedagogis. Dalam teori keteladanan sosial, pengakuan dari figur otoritas dapat membentuk motivasi kolektif yang kuat. Santri yang menyaksikan langsung apresiasi tersebut merasakan bahwa usaha intelektual mereka memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Pengalaman emosional ini membentuk memori kolektif yang akan mendorong generasi berikutnya untuk melanjutkan tradisi menulis.

    Secara kultural, peristiwa ini menunjukkan bahwa pesantren sedang memasuki fase baru dalam sejarahnya, fase literasi produktif. Tradisi membaca kitab klasik tetap dipertahankan, tetapi kini dilengkapi dengan tradisi menulis buku kontemporer. Integrasi antara tradisi lama dan inovasi baru menciptakan identitas pesantren yang berakar sekaligus berkembang.

    Apresiasi tersebut juga mengandung pesan tentang hubungan harmonis antara negara dan lembaga pendidikan keagamaan. Negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga sebagai mitra yang mengakui dan mendorong inovasi pendidikan berbasis nilai-nilai spiritual. Hubungan ini memperlihatkan bahwa pembangunan peradaban membutuhkan sinergi antara kebijakan publik dan gerakan kultural masyarakat.

    Peristiwa apresiasi ini dapat dipahami sebagai pengakuan terhadap kekuatan kata-kata. Buku adalah simbol bahwa gagasan memiliki daya hidup yang panjang. Ketika negara menghargai buku karya santri, negara sedang menghargai masa depan. Ia mengakui bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tetapi juga oleh infrastruktur intelektual dan spiritual.

    Apresiasi tersebut menjadi penanda bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dan diakui. Di lobi gedung utama itu, bukan hanya buku yang diserahkan, tetapi harapan, identitas, dan masa depan literasi pesantren yang diteguhkan. (*)

  • Momentum Kunjungan Kemenag Jatim: 197 Buku Santri Diserahkan ke IBS PKMKK

    Surabaya, Wartatranspransi.com – Momentum penyerahan buku secara simbolik hasil karya santri sebanyak 197 judul ber-ISBN dalam kunjungan Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, ke IBS PKMKK bukan sekadar seremoni akademik, melainkan peristiwa simbolik yang sarat makna sosiologis. Penyerahan buku karya santri, buku Konsep Kurikulum Al-Muwahhid, serta profil kelembagaan, menghadirkan pesan mendalam tentang transformasi pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan hanya transmisi tradisi.

    Produksi buku oleh santri merupakan bentuk pergeseran posisi pesantren dari “konsumen ilmu” menjadi “produsen ilmu.” Secara historis, pesantren identik dengan tradisi membaca, menghafal, dan mensyarah kitab-kitab ulama klasik.

    Tradisi ini membentuk basis keilmuan yang kuat, namun sering kali menempatkan pesantren sebagai penjaga warisan intelektual masa lalu. Ketika santri mulai menulis dan menerbitkan karya ber-ISBN dalam jumlah besar, terjadi transformasi epistemologis, pesantren mulai menempatkan dirinya sebagai aktor aktif dalam produksi wacana keilmuan kontemporer.

    Peristiwa penyerahan 197 judul buku menjadi simbol pergeseran tersebut. Angka yang besar ini bukan hanya statistik, melainkan representasi dari budaya literasi yang tumbuh secara sistemik. Di balik setiap buku terdapat proses Panjang, membaca, berdiskusi, menulis, mengedit, hingga menerbitkan. Proses ini menunjukkan bahwa literasi tidak lagi dipahami sebagai aktivitas individual, tetapi sebagai budaya kolektif yang hidup dalam ekosistem pendidikan pesantren.

    Secara sosiologis, budaya menulis di pesantren juga memiliki implikasi pada pembentukan habitus intelektual santri. Tradisi menulis melatih santri untuk berpikir sistematis, reflektif, dan argumentatif. Mereka tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga mengolah, mengkritisi, dan mengomunikasikannya kembali kepada masyarakat. Dengan demikian, pesantren membentuk generasi santri yang mampu berpartisipasi dalam diskursus publik.

    Aktivitas menulis memiliki dimensi ibadah yang mendalam. Dalam tradisi Islam, tinta ulama sering dimaknai lebih berharga daripada darah syuhada. Menulis menjadi bentuk amal jariyah, amal yang terus mengalir pahalanya selama ilmunya dibaca dan dimanfaatkan.

    Ketika santri menulis buku, mereka sedang menanam jejak kebermanfaatan yang melampaui batas ruang dan waktu. Buku menjadi medium keabadian gagasan, sekaligus saksi bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti pada diri sendiri.

    Penyerahan buku Konsep Kurikulum Al-Muwahhid IBS PKMKK memperkuat pesan bahwa produksi literasi tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari desain pendidikan yang terstruktur. Kurikulum ini menegaskan integrasi antara ilmu keislaman, ilmu umum, karakter, dan keterampilan abad 21. Penyerahan konsep kurikulum secara simbolik menandakan bahwa literasi bukan program tambahan, melainkan inti dari visi pendidikan.

    Simbolisasi penyerahan buku juga memiliki efek motivasional yang kuat bagi santri. Pengakuan publik terhadap karya mereka membangun rasa percaya diri kolektif. Santri merasakan bahwa suara mereka memiliki nilai, tulisan mereka memiliki makna, dan karya mereka dihargai oleh negara. Pengakuan ini penting dalam membentuk identitas diri santri sebagai intelektual muda yang siap berkontribusi bagi masyarakat.

    Penyerahan profil IBS PKMKK bersama 197 karya santri menunjukkan keterhubungan antara identitas institusi dan produktivitas akademik. Profil lembaga bukan hanya deskripsi administratif, tetapi narasi tentang perjalanan, visi, dan kontribusi pesantren bagi bangsa. Ketika profil lembaga diserahkan bersama karya santri, terbentuk pesan bahwa kekuatan institusi terletak pada manusia yang dididiknya.

    Peristiwa ini juga dapat dipahami sebagai dialog simbolik antara negara dan pesantren. Negara hadir mengakui kontribusi pesantren dalam pengembangan literasi dan pendidikan. Pesantren, di sisi lain, menunjukkan kesiapannya menjadi mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Hubungan ini mencerminkan sinergi antara otoritas formal dan otoritas moral dalam membangun peradaban.

    Secara filosofis, buku adalah simbol peradaban. Peradaban besar selalu ditandai oleh tradisi tulis yang kuat. Dengan demikian, penyerahan 197 buku karya santri IBS PKMKK, merupakan pernyataan simbolik bahwa pesantren sedang meneguhkan dirinya sebagai bagian dari arus besar peradaban literasi. Peristiwa ini bukan hanya tentang buku yang diserahkan, tetapi tentang masa depan yang sedang ditulis.

    Simbolisasi penyerahan buku dalam kunjungan tersebut menjadi penanda bahwa pesantren tidak hanya menjaga tradisi keilmuan masa lalu, tetapi juga menulis masa depan. Dalam tinta santri, tersimpan harapan bahwa ilmu akan terus mengalir, menyinari, dan membangun peradaban yang berakar pada spiritualitas sekaligus terbuka pada kemajuan zaman. (*)

  • Kemenag Jatim Bahas Transformasi Pesantren di IBS PKMKK

    Surabaya, Wartatransparansi.com – Kunjungan Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, ke Yayasan Kyai Mudrikah Kembang Kuning yang mengelola PP. Kyai Mudrikah Kembang Kuning beserta unit pendidikan formalnya, yang kini dikenal sebagai IBS PKMKK, menjadi momentum reflektif tentang arah baru pengembangan lembaga pendidikan Islam di era krisis ekologis dan transformasi ekonomi global.

    Kunjungan tersebut bernuansa non formal, tetapi berkembang menjadi ruang dialog intelektual yang membahas masa depan pesantren sebagai pusat pembaruan sosial, spiritual, sekaligus ekonomi masyarakat.

    Dalam diskusi komprehensif yang berlangsung, muncul kesadaran bersama bahwa pesantren tidak lagi cukup dipahami sebagai lembaga transmisi ilmu agama semata. Pesantren kini dihadapkan pada tantangan zaman yang menuntut keterlibatan aktif dalam persoalan lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan sosial. Kesadaran ini melahirkan gagasan integratif tentang eco-teologi dan ekonomi sirkular berbasis pesantren dengan pendekatan PAR-ABCD (Participatory Action Research – Asset Based Community Development).

    Pembaruan ini menandai pergeseran paradigma peran pesantren dari institusi pendidikan tradisional menuju agen transformasi sosial. Pesantren sejak awal sebenarnya memiliki karakter komunitarian yang kuat, hidup kolektif, kesederhanaan, kemandirian, serta solidaritas sosial. Nilai-nilai ini secara inheren selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan ekonomi berbasis komunitas. Dengan demikian, gagasan eco-teologi dan ekonomi sirkular bukanlah sesuatu yang asing bagi pesantren, melainkan artikulasi baru dari nilai lama dalam bahasa zaman modern.

    Eco-teologi dalam konteks pesantren berangkat dari kesadaran spiritual bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah ilahi yang harus dijaga.

    Kesadaran ini menggeser orientasi pembangunan dari eksploitasi menuju pemeliharaan. Pesantren, dengan tradisi kesederhanaannya, memiliki potensi besar menjadi model kehidupan ekologis, pengelolaan sampah, konservasi air, energi terbarukan, hingga pertanian berkelanjutan.

    Ketika nilai-nilai spiritual diterjemahkan ke dalam praktik ekologis, agama tidak lagi berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etika kehidupan.

    Eco-teologi menciptakan transformasi kesadaran kolektif. Santri tidak hanya dididik menjadi individu yang saleh secara ritual, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis. Kesadaran ini membentuk identitas baru, santri sebagai penjaga bumi. Identitas ini penting karena perubahan perilaku ekologis tidak cukup dengan pengetahuan, tetapi membutuhkan pembentukan kesadaran dan makna.

    Sementara itu, ekonomi sirkular berbasis pesantren menghadirkan paradigma baru dalam kemandirian lembaga. Ekonomi sirkular menekankan pada siklus penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, produksi, konsumsi, daur ulang, dan regenerasi.

    Pesantren memiliki potensi besar dalam hal ini karena memiliki komunitas internal yang stabil dan sistem kehidupan yang relatif mandiri. Produksi pangan, pengelolaan limbah, kewirausahaan santri, hingga pengembangan UMKM berbasis pesantren dapat menjadi ekosistem ekonomi yang berputar dalam satu lingkaran keberlanjutan.

    Pendekatan PAR-ABCD memberikan kerangka metodologis yang sangat relevan. PAR menekankan partisipasi aktif komunitas dalam penelitian dan tindakan, sementara ABCD berfokus pada pengembangan berbasis aset yang sudah dimiliki masyarakat.

    Dalam konteks pesantren, pendekatan ini berarti pengembangan tidak dimulai dari kekurangan, tetapi dari potensi santri, alumni, jaringan ulama, lahan, tradisi gotong royong, dan kepercayaan masyarakat.

    Pendekatan ini memiliki dimensi psikologis yang mendalam. Ketika komunitas diberdayakan berdasarkan asetnya, muncul rasa percaya diri kolektif. Pesantren tidak lagi merasa sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek perubahan. Rasa kepemilikan terhadap program pembangunan menjadi lebih kuat, sehingga keberlanjutan program lebih terjamin.

    Dialog tentang eco-teologi dan ekonomi sirkular juga memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi laboratorium sosial bagi model pembangunan berkelanjutan.

    Di tengah krisis iklim dan ketidakstabilan ekonomi global, pesantren dapat menawarkan alternatif berbasis nilai kesederhanaan, keberlanjutan, solidaritas, dan spiritualitas. Model ini bukan hanya relevan bagi komunitas pesantren, tetapi juga bagi masyarakat luas.

    Pertemuan ini menegaskan bahwa pembaruan tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Justru, pembaruan yang autentik lahir dari kemampuan membaca kembali tradisi dalam konteks zaman.

    Pesantren memiliki kekayaan nilai yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa pembangunan modern. Eco-teologi dan ekonomi sirkular hanyalah dua contoh bagaimana nilai lama menemukan bentuk baru.

    Kunjungan Kepala KanKemenag Jatim Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar ke IBS PKMKK ini, dapat dipahami sebagai titik temu antara tradisi dan inovasi. Negara, pesantren, dan masyarakat bertemu dalam satu visi, yakni membangun masa depan pendidikan Islam yang berkelanjutan, mandiri, dan relevan dengan tantangan zaman

    Dalam pertemuan tersebut, tampak bahwa pesantren tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan, sebuah masa depan di mana spiritualitas, ekologi, dan ekonomi berjalan dalam satu harmoni kehidupan. (*)

  • Hasil Seleksi SNBP 2026: Unesa Terima 6.509 Calon Mahasiswa Baru, 1.293 diantaranya Lolos KIP-Kuliah

    Surabaya, Wartatransparansi.com —Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) resmi mengumumkan hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 pada Selasa, 31 Maret 2026. Berdasarkan hasil seleksi tersebut, sebanyak 6.509 peserta dinyatakan lolos atau diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

    Dari total peserta yang diterima tersebut, sebanyak 1.293 peserta dinyatakan eligible atau lolos Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) di kampus “Rumah Para Juara”.

    Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menyampaikan selamat kepada para peserta yang berhasil menembus persaingan ketat pada jalur prestasi tersebut.

    Guru Besar Bidang Teknologi Pembelajaran Seni Budaya Unesa tersebut menambahkan bahwa peserta yang diterima merupakan pemilik prestasi terbaik yang memenuhi kriteria penilaian nasional.

    “Tahun ini, Unesa mencatat sebanyak 53.237 peserta yang bersaing memperebutkan kursi melalui jalur SNBP, dan hanya 6.509 yang diterima. Angka ini relatif stabil dari jumlah penerimaan tahun lalu di angka 6.262 peserta,” ucapnya.

    Kepala Subdirektorat Admisi Unesa, Sukarmin mengimbau agar seluruh peserta yang lolos segera melakukan verifikasi data akademik dan wajib melakukan registrasi ulang.

    Sebab, sesuai ketentuan nasional, peserta yang tidak registrasi ulang tidak dapat mendaftar pada jalur UTBK-SNBT tahun 2026, 2027, dan 2028, serta dilarang mengikuti Seleksi Jalur Mandiri di PTN mana pun pada tahun 2026.

    “Mengingat konsekuensi tersebut, kami mengharapkan peserta segera melengkapi persyaratan registrasi sesuai jadwal yang ditetapkan,” tegas Sukarmin.

    Khusus bagi penerima KIP-K, Unesa akan melakukan verifikasi data ekonomi melalui pemeriksaan dokumen dan/atau kunjungan lapangan ke kediaman peserta guna memastikan validitas data.

    Bagi peserta yang belum berhasil pada jalur SNBP, Sukarmin mengingatkan bahwa masih ada kesempatan masuk Unesa melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.

    Pendaftaran UTBK-SNBT masih dibuka hingga 7 April 2026, pukul 15.00 WIB.

    “Kami berpesan agar peserta yang belum lulus tidak berkecil hati, tetap semangat, dan segera mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi melalui jalur tes atau UTBK,” pesan dosen Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) itu.

    Daftar Ulang

    Setelah dinyatakan lolos atau diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Langkah selanjutnya yang wajib dilakukan calon mahasiswa baru (camaba) Unesa adalah melakukan proses registrasi atau daftar ulang mulai Kamis, 2 April 2026.

    Kepala Subdirektorat Admisi Unesa, Sukarmin mengingatkan bahwa proses daftar ulang merupakan tahap krusial untuk memastikan status (kemahasiswaan) peserta. Sesuai ketentuan, peserta yang tidak registrasi ulang tidak dapat mendaftar pada jalur UTBK-SNBT tahun 2026, 2027, dan 2028, serta dilarang mengikuti Seleksi Jalur Mandiri di PTN manapun pada tahun 2026.

    “Oleh karena itu, kami mengimbau kepada camaba untuk registrasi ulang, memperhatikan jadwal, dan ketentuan secara teliti agar proses administratif berjalan lancar,” ucap dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu.

    Ada beberapa ketentuan dan tahapan yang harus diperhatikan baik-baik camaba dalam melakukan pendaftaran ulang sebagai berikut:

    1. Pengisian Data Diri dan Finalisasi (02–04 April 2026)

    Camaba diwajibkan mengisi atau melengkapi data secara daring melalui langkah-langkah berikut:

    Akses laman https://pmb.unesa.ac.id/pmb-login.

    Pilih menu “Login SNBP/SNBT” lalu klik “Data Calon Mahasiswa”.

    Camaba “Wajib” Upload Data Pendukung Pada PMB.

    Akses Menu Daftar Ulang: Lengkapi seluruh isian data. Pastikan data dan ejaan nama sesuai dokumen resmi seperti Akta Kelahiran, KTP, dan Ijazah. Jika sudah sesuai, pilih “YA” dan “SIMPAN”.

    Camaba silakan mengisi formulir pendukung kondisi finansial, kemudian klik “SUBMIT.”

    Isi formulir pendukung kondisi finansial, lalu klik “Submit” dan setelah selesai jangan lupa klik “FINALISASI”.

    2. Verifikasi Data oleh Tim Unesa (03 – 09 April 2026)

    Pada tahap ini, tim verifikator akan melakukan pengecekan antara data yang diinput dengan dokumen yang diunggah.

    Camaba diminta melakukan pemeriksaan secara berkala pada kotak catatan di poin nomor 3 (Pembayaran UKT) untuk melihat update status verifikasi.

    Jika ditemukan ketidaksesuaian data, Tim Verifikasi akan menghubungi camaba untuk proses konfirmasi dan validasi.

    3. Penetapan dan Pembayaran UKT (13 – 24 April 2026)

    Tahap akhir dari registrasi ulang adalah pemenuhan biaya administrasi pendidikan:

    Pengumuman UKT: Penetapan besaran UKT dan Nomor Virtual Account (VA) akan dirilis pada 10 April 2026.

    Periode Pembayaran: Dilakukan mulai tanggal 13 hingga 24 April 2026.

    Pembayaran bagi peserta Non-KIP Kuliah dilakukan melalui Virtual Account Bank BTN. Panduan teknis pembayaran dapat dicek melalui tautan https://unesa.me/vaukt.

    Informasi lengkap tahapan pendaftaran ulang camaba jalur SNBP dapat dilihat di DAFTAR ULANG UNESA (klik). Peserta diimbau agar seluruh proses registrasi atau daftar ulang dilakukan dengan benar dan teliti. (*)

  • Transformasi Menuju UNM, Univ. Cipta Wacana Malang Wisuda 352 Lulusan

    Malang, Wartatransparansi.com – Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka wisuda Program Sarjana Tahun Akademik 2026 di Hotel Savana Malang, Minggu (29/3/2026).Sebanyak 352 wisudawan mengikuti prosesi tersebut, meskipun tujuh di antaranya berhalangan hadir.

    Pelantikan wisudawan dipimpin langsung oleh Rektor UCW, Dr. Abd. Syakur, M.Pd., MM., MH., M.Ikom., didampingi para dekan fakultas dalam suasana khidmat. Prosesi diawali dengan penampilan tari selamat datang oleh UKM universitas, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Farhan Hafid.

    Dalam sambutannya, Rektor Abd. Syakur menegaskan bahwa para wisudawan yang dilantik merupakan lulusan terbaik. Ia juga mengungkapkan bahwa masih terdapat 1.004 mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi dengan berbagai kendala, baik administratif, finansial, mungkin bimbingannya lagi stres, mungkin publikasinya kurang. Jadi kami ucapkan selamat kepada peserta wisudawan yang telah menyelesaikan pada hari ini.

    Dalam kesempatan itu, rektor juga menunjuk wisudawan asal Papua untuk berdiri. Abdul Syukur menjelaskan, wisudawan Papuas ini  seminggu sebelumnya ujian selalu minta link untuk zoom, tapi saat publikasi jurnal malah tidak bisa ikut dengan alasan sinyal Papua tidak bagus.

    “Bagi kami, pihak akademik telah memberikan banyak fasilitas dan kemudahan. Karena itu, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak menyelesaikan studi,” tegasnya.

    Ia juga mengungkapkan bahwa Univ. Cipta Wacana tengah bersiap melakukan transformasi menjadi Universitas Nusantara Malang (UNM) pada tahun mendatang. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan peningkatan kualitas institusi.

    “Kami melakukan lompatan-lompatan yang cepat. Target kami menjadi perguruan tinggi unggulan. Bahkan gedung tiga lantai juga siap digunakan,” tambahnya.

    Saat ini, lanjutnya, Universitas diperkuat oleh 40 tenaga pengajar bergelar doktor dan akan bertambah menjadi 42 doktor pada April atau Mei mendatang. Pada tahun 2023/2024 kampus ini merupakan masa rintisan. Karena kampus ini dicetak untuk multi kultural, siapa saja bisa masuk disini. Demikian juga dengan SDMnya sudah multikultural.

    Lalu pada tahun 2024/2025, masuk dalam proses ferivikasi (akriditasi). Kami ingin kampus ini menjadi kampus yang prosedural dan sesuai yang ditetapkan pemerintah. Lalu pada tahun 2025/2026, banyak sekali mahasiswa dan masyarakat yang bertanya tentang akriditasi. Hari ini sudah terjawab semua prodi sudah sangat baik sekali, kecuali teknik sipil. Teman-teman jangan kecil hati, kami akan terus kejar dimana tahun 2028 sudah menjadi akriditasi unggul 2

    Rektor juga menekankan pentingnya kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan adaptasi, integritas, serta semangat inovasi.

    “Dunia saat ini bergerak sangat cepat. Oleh karena itu, para lulusan harus mampu beradaptasi, terus belajar, dan menjaga integritas dalam setiap langkah,” ujarnya di hadapan wisudawan dan para orang tua.

    Ia menambahkan, keberhasilan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga kemampuan berkolaborasi serta membangun jejaring.

    “Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tuturnya.

    Suasana wisuda berlangsung khidmat dan penuh haru, dihadiri oleh wisudawan, keluarga, serta civitas akademika. Momen ini menjadi tonggak penting bagi para lulusan dalam memasuki babak baru kehidupan.

    Dengan bekal ilmu yang telah diperoleh, para lulusan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memberikan dampak positif di berbagai bidang.

    Sebagai informasi, Universitas Cipta Wacana Malang merupakan perguruan tinggi swasta di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan pembinaan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Kampus ini terus berkomitmen meningkatkan mutu akademik dan tata kelola pendidikan sesuai standar yang ditetapkan. (Ais)

  • Gubernur Khofifah Lantik 128 Kepala SMA/SMK Negeri se Jatim, Tekankan Profesionalisme dan Mutu Pendidikan

    SURABAYA –  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melantik 128 kepala SMA dan SMK Negeri se Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Rabu (25/3/2026).  Pelantikan berlangsung cukup khitmat. Mereka yang di lantik ini awal April 2026 harus sudah menjalankan kewajiban yang sebagai kepala sekolah.

     Pelantikan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat tata kelola pendidikan serta meningkatkan kualitas layanan pendidikan di tingkat menengah.

    Harusnya ada 130 kepala sekolah yang dilantik. Namun ada dua yang cancel karena tidak memenuhi syarat sebagai calon Kepala sekolah dibawah Diknas Jawa Timur. “Menjadi kepala sekolah saat ini harus memiliki beberapa persyaratan khusus. Satu diantaranya harus mengikuti pendidikan calon Kepala sekolah.

    Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa para kepala sekolah yang dilantik diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

    Kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai pemimpin satuan pendidikan yang tidak hanya bertugas mengelola administrasi sekolah, tetapi juga menjadi motor penggerak dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    “Pelantikan ini bukan sekadar rotasi atau pengisian jabatan, tetapi bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur.  Kepala sekolah harus mampu menjadi leader yang menginspirasi guru dan siswa,” ujarnya.

    Ia menambahkan, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks, terutama dalam menghadapi era digitalisasi dan kebutuhan link and match antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Oleh karena itu, kepala SMA dan SMK dituntut mampu menghadirkan program-program unggulan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

    Khusus untuk SMK, Aries menekankan pentingnya penguatan kerja sama dengan dunia industri agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

    Sementara untuk SMA, fokus diarahkan pada penguatan karakter, akademik, serta kesiapan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Selain itu, Aries juga mengingatkan pentingnya integritas dan transparansi dalam pengelolaan sekolah. Ia menegaskan bahwa kepala sekolah harus mampu menjaga kepercayaan publik serta menciptakan tata kelola yang akuntabel.

    “Integritas adalah kunci. Kepala sekolah harus menjadi teladan, baik bagi guru maupun siswa. Jangan sampai ada praktik yang mencederai dunia pendidikan,” tegasnya.

    Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum bagi peningkatan kinerja seluruh kepala sekolah di Jawa Timur, sekaligus mendorong terwujudnya pendidikan yang berkualitas, merata, dan berdaya saing.

    Dengan kepemimpinan yang kuat dan inovatif, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis mampu mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global di masa depan. (*)

  • Fasilitas Terbaik di Jatim, Khofifah Harap edOTEL SMKN 1 Jombang Segera Beralih ke BLUD

    JOMBANG, WartaTransparansi.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan kekagumannya terhadap fasilitas edOTEL SMKN 1 Jombang yang dinilainya sebagai salah satu fasilitas pembelajaran praktik perhotelan terbaik di Jawa Timur. Karena itu, Khofifah mendorong agar SMKN 1 Jombang segera berproses menuju status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sekolah.

    Hal tersebut disampaikan Gubernur Khofifah saat meresmikan Redesain edOTEL SMKN 1 Jombang, Rabu (11/3).

    Menurut Khofifah, keberadaan edOTEL tersebut menunjukkan keseriusan sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa, khususnya di bidang perhotelan dan pariwisata yang berbasis praktik langsung.

    “SMKN 1 Jombang ini sudah waktunya menuju BLUD. BLUD itu butuh proses dan butuh budget, maka saya minta tolong Pak Yasin Ka. BPKAD , Pak Aries Kadisdik , kembali melakukan identifikasi  sekolah-sekolah dengan keseriusan luar biasa seperti ini memang harus diberikan penguatan supaya antara keseriusan  dan penguatan itu akan mencapai titik strategis yang kita harapkan,” kata Gubernur Khofifah dalam sambutannya.

    edOTEL SMKN 1 Jombang memiliki berbagai fasilitas pendukung pembelajaran praktik perhotelan, antara lain satu unit restoran, 17 kamar penginapan dengan tiga tipe berbeda, ruang pertemuan berkapasitas 20 orang dan 200 orang, mushala, galeri, toilet, serta area lobi.

    Khofifah juga mengapresiasi penamaan sejumlah ruang pertemuan di edOTEL yang menggunakan nama tokoh-tokoh besar bangsa seperti Gus Dur, KH Wahab Chasbullah, dan KH Wahid Hasyim mengingat sekolah ini di Jombang sehingga menggunakan tokoh sekaligus pahlawan nadional asal Jombang sangat menginspirasi.

    “Meeting roomnya menggunakan nama Gus Dur, Wahab Chasbullah, Wahid Hasyim, meeting room ini menggunakan nama-nama besar pahlawan nasional, mudah-mudahan akan menjadi inspirasi bagi nafas semangat heroisme yang terbangun dari SMKN 1 Jombang,” katanya.

    Pada kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah juga meresmikan rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana (sarpras) untuk 51 SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di wilayah Kabupaten Jombang, Nganjuk, dan Blitar. Total anggaran yang digunakan untuk revitalisasi dan rehabilitasi sarpras tersebut mencapai Rp46,8 miliar.

    Rinciannya, Kabupaten Jombang menerima alokasi Rp13,9 miliar untuk 16 lembaga pendidikan, Kabupaten Nganjuk sebesar Rp13,3 miliar untuk 14 lembaga, serta Kabupaten Blitar sebesar Rp19,5 miliar untuk 21 lembaga pendidikan.

    “Ini adalah bagian dari upaya menjaga mutu pendidikan menengah dan vokasi, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan masa depan,” kata Gubernur Khofifah.

    Orang nomor satu di Jatim ini menuturkan bahwa revitalisasi dan rehabilitasi sarpras sekolah ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan menengah dan Vokasi di Jawa Timur. Selain itu, juga sebagai ikhtiar untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman bagi warga sekolah.

    “Suasana belajar makin tersupport oleh sarana prasarana, gurunya makin convinient ekosistem belajarnya makin membaik anak-anak juga begitu sehingga akan memacu pada prestasi-prestasi luar biasa,” tuturnya.

    Gubernur Khofifah mengatakan bahwa peresmian ini bukan sekadar seremoni peresmian sarana dan prasarana, melainkan penegasan komitmen bersama bahwa pendidikan adalah prioritas utama dalam membangun sumber daya manusia Jawa Timur yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

    “Ini bentuk keberpihakan negara, agar proses belajar berlangsung lebih kondusif sekaligus bermutu,” terangnya.

    Pendidikan, kata Gubernur Khofifah adalah ikhtiar panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung dirasakan hari ini, melainkan akan dituai oleh generasi mendatang. Oleh karena itu, peresmian rehabilitasi dan revitalisasi sarana prasarana hari ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah investasi peradaban.

    Momentum ini menjadi penanda transformasi pendidikan Jawa Timur yang lebih luas. Di mana pembangunan tidak berhenti pada pemenuhan fasilitas, melainkan diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, memperdalam makna belajar, serta menyiapkan generasi yang tangguh menghadapi kompleksitas masa depan.

    “Inilah wujud nyata komitmen kita dalam menjaga martabat pendidikan sekaligus merawat masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

    Sekolah adalah ruang tumbuh, tempat nilai, karakter, dan mimpi anak-anak kita dirajut. Karena itu, ketika pemerintah melakukan rehabilitasi dan revitalisasi sekolah, sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah menjaga martabat pendidikan sekaligus merawat masa depan generasi penerus.

    Program ini tidak berhenti pada perbaikan sarana dan prasarana, melainkan juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem belajar yang sehat mencakup ruang kelas yang aman, sanitasi yang layak, fasilitas penunjang pembelajaran yang memadai, serta suasana sekolah yang ramah anak. Dengan demikian, rehabilitasi dan revitalisasi sekolah benar-benar menjadi bagian dari upaya menyeluruh dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menjaga masa depan generasi.

    “Kita menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap melanjutkan pendidikan, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat,” katanya.

    Di sisi lain, Gubernur Perempuan Pertama di Jatim ini selalu menegaskan bahwa sarana dan prasarana yang baik tidak akan bermakna tanpa jiwa pendidikan di dalamnya. Jiwa itu hadir pada para guru yang mengajar dengan hati, pada kepala sekolah yang memimpin dengan keteladanan, serta pada murid-murid yang belajar dengan semangat, disiplin, dan akhlak yang baik.

    Di kesempatan ini, Gubernur juga memberikan bantuan biaya pendidikan bagi 30 anak berprestasi dari keluarga tidak mampu asal Kabupaten Jombang, Nganjuk dan Blitar. Masing-masing anak menerima bantuan senilai Rp 1 juta.

    Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan revitalisasi dan rehabilitasi Sarpras sekolah di wilayah Kabupaten Jombang, Nganjuk dan Blitar ini merupakan upaya pemerintah dan pemerintah provinsi Jawa Timur untuk terus memberikan pemerataan pendidikan yang layak.

    “Mudah-mudahan dengan fasilitas yang baru semakin mendukung proses pembelajaran sehingga guru dan murid sama-sama bisa menikmati pelayanan pendidikan dengan baik dan tentu kita inginkan hasilnya juga lebih baik,” kata Aries.

    Pada revitalisasi dan rehabilitasi Sarpras sekolah ini juga dilakukan pembangunan berbagai fasilitas baru untuk mendukung pembelajaran yang lebih modern dan relevan dengan kebutuhan saat ini. Oleh sebab itu Aries meminta agar seluruh warga sekolah turut serta menjaga fasilitas penunjang dan sarpras yang telah direvitalisasi dan direhabilitasi. (*)

  • Married By Accident Picu Pernikahan Dini di Blitar

    BLITAR, WartaTransparansi.com – Anggota Komisi IX DPR Nurhadi, S.Pd, M.H bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar sosialisasi kaitan program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana). Acara ini diselenggarakan di Desa Jajar, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Jum’at (06/03/2026).

    Menurut Nurhadi, hal ini terkait banyaknya pernikahan dini di Kabupaten Blitar jumlah pengajuan dispensasi nikah untuk pasangan di bawah umur naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Angka pernikahan dini di Kabupaten Blitar menunjukkan tren kenaikan sekitar 20% pada awal 2025, dengan 129 pasangan di bawah umur mengajukan dispensasi nikah, mayoritas karena hamil duluan.

    “Married by accident atau disebut kondisi kehamilan sebelum menikah merupakan salah satu faktor yang mendorong meningkatnya permohonan dispensasi nikah.nFenomena ini memicu perhatian serius pemerintah setempat, yang memperkuat edukasi seksual dan pergaulan sehat di tingkat sekolah,” jelasnya.

    Pihaknya menyebut, untuk mencegah hal tersebut perlu penguatan akses pendidikan, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta sosialisasi dampak negatif kesehatan dan sosial. Perlu keterlibatan pendampingan remaja, peran aktif orang tua, penegakan hukum atau aturan usia pernikahan, dan penyediaan konseling untuk menunda pernikahan dini.

    Pada kesempatan tersebut Nurhadi juga menyinggung penanganan stunting di Kabupaten Blitar menunjukkan tren positif dengan penurunan prevalensi hingga 8,58% pada 2024, didukung pemantauan tumbuh kembang balita mencapai 97%. Dikatakannya, Pemkab Blitar fokus pada pola asuh (penyebab >70% kasus), intervensi spesifik/sensitif, dan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target nasional.

    “Program Bangga Kencana yang dilakukan oleh DPR RI Komisi IX Dan pembangunan keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) bersama tokoh masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam program pembangunan keluarga,” tuturnya.

    Tujuan sosialisasi meningkatkan pemahaman, memberikan informasi yang jelas dan akurat tentang tujuan dan manfaat program Bangga Kencana kepada masyarakat. Meningkatkan Partisipasi mendorong masyarakat untuk aktif terlibat dalam program KB dan kegiatan pembangunan keluarga lainnya.

    “Peran tokoh masyarakat memiliki peran penting dalam penyampaian informasi kepada masyarakat di lingkungannya. Mereka dapat menjadi agen perubahan dan penggerak partisipasi masyarakat dalam program serta mempercepat pencapaian tujuan program,” pungkasnya. (*)

  • Revitalisasi 51 Sekolah di Lamongan–Gresik Telan Rp69,7 Miliar

    LAMONGAN, WartaTransparansi.com — Pemerintah Provinsi Jawa Timur merevitalisasi dan merehabilitasi 51 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Lamongan dan Gresik dengan total anggaran Rp69,7 miliar.

    Peresmian program tersebut dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di SMAN 2 Lamongan, Rabu (4/3).

    Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti secara simbolis yang nantinya akan dipasang di masing-masing sekolah penerima program.

    Khofifah menegaskan prasasti tersebut bukan sekadar tanda pembangunan fisik, tetapi simbol komitmen untuk menjaga fasilitas pendidikan yang telah dibangun.

    “Peresmian ini menjadi pesan bahwa lingkungan sekolah harus kita siapkan dan kita jaga bersama agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik,” kata Khofifah.

    Ia juga menyoroti pentingnya kebersihan fasilitas sekolah, khususnya toilet, yang sering kali dianggap sepele. Menurutnya, kebersihan toilet menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

    Khofifah mengungkapkan, saat mengikuti kegiatan retret di Magelang, Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pentingnya kebersihan toilet di sekolah.

    “Karena itu kami mencari role model sekolah yang toiletnya bersih dan terpelihara dengan baik agar bisa menjadi contoh bagi sekolah lain,” ujarnya.

    Selain pembangunan fisik, Pemprov Jatim juga mendorong implementasi Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di wilayah Lamongan dan Gresik. Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 75 sekolah, terdiri dari 60 sekolah di Gresik dan 15 sekolah di Lamongan.

    Program ini mendorong sekolah mengembangkan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual bagi siswa.

    Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyebutkan revitalisasi dan rehabilitasi ini merupakan program berkelanjutan Pemprov Jatim untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

    Berdasarkan data Disdik Jatim, dari total 51 sekolah penerima program, 32 sekolah berada di Lamongan dengan anggaran sekitar Rp42,29 miliar, sementara 19 sekolah di Gresik dengan anggaran sekitar Rp27,4 miliar.

    Pembangunan mencakup perbaikan ruang kelas, laboratorium komputer dan IPA, ruang administrasi, perpustakaan, toilet, hingga pembangunan ruang praktik siswa di SMK.

    Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Effendi menyambut baik program tersebut dan menilai peningkatan sarana pendidikan akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Ia menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lamongan saat ini mencapai 76,8, berada di atas rata-rata provinsi Jawa Timur.

    “Kami berprinsip tidak boleh ada anak Lamongan yang tidak sekolah,” ujarnya.

    Usai peresmian, Khofifah juga menyerahkan bantuan sembako kepada petugas sekolah serta bantuan pendidikan kepada siswa prasejahtera**

    (fir/min)